Review Film The Terror: Teror Makhluk Supranatural di Kapal. The Terror (2018–2019), serial antologi horor psikologis karya AMC yang tayang dua musim, tetap menjadi salah satu produksi paling mencekam dan banyak dibahas hingga awal 2026. Musim pertama, yang paling ikonik, mengadaptasi novel karya Dan Simmons dan berlatar ekspedisi Franklin tahun 1845–1848 yang hilang di Arktik. Serial ini mengikuti nasib kapal HMS Erebus dan HMS Terror yang terjebak es selama berbulan-bulan, di mana kru menghadapi kelaparan, penyakit, dan teror makhluk supranatural misterius yang memburu mereka satu per satu. Hingga Februari 2026, The Terror musim pertama terus dipuji sebagai salah satu thriller survival terbaik di televisi, menggabungkan horor historis, psikologi manusia, dan elemen supranatural yang membuat penonton merinding hingga akhir. REVIEW WISATA
Plot Utama dan Teror Makhluk Supranatural: Review Film The Terror: Teror Makhluk Supranatural di Kapal
Cerita berpusat pada Kapten Sir John Franklin (Ciarán Hinds), Kapten Francis Crozier (Jared Harris), dan kru 129 orang yang berusaha menemukan Northwest Passage. Kapal-kapal terjebak es di Arktik selama musim dingin yang ekstrem, dan pasokan makanan mulai menipis. Ketika kru mulai meninggal satu per satu—awalnya karena penyakit dan kelaparan—mereka menyadari ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan: makhluk raksasa berbulu putih yang disebut “Tuunbaq” oleh suku Inuit setempat. Makhluk ini bukan sekadar binatang buas; ia adalah roh pembalas dendam yang memangsa manusia yang mengganggu tanah suci.
Teror supranatural tidak muncul sebagai monster biasa yang mudah dibunuh. Tuunbaq digambarkan sebagai makhluk yang hampir tidak bisa dibunuh dengan senjata konvensional, dan serangannya sering disertai elemen psikologis: ia bisa meniru suara manusia, membuat kru menjadi gila karena paranoia dan halusinasi. Serial ini perlahan membongkar bahwa serangan Tuunbaq bukan kebetulan; ia terkait dengan dosa kolonial Inggris terhadap penduduk asli dan penghinaan terhadap alam Arktik. Setiap episode meningkatkan ketegangan melalui kelaparan, kanibalisme yang mulai muncul, dan keputusan kepemimpinan yang semakin putus asa.
Karakter dan Atmosfer Dingin yang Mencekam: Review Film The Terror: Teror Makhluk Supranatural di Kapal
Jared Harris sebagai Kapten Francis Crozier memberikan penampilan luar biasa—seorang kapten Skotlandia yang keras kepala tapi manusiawi, yang berjuang melawan otoritas Franklin dan kondisi ekstrem. Ciarán Hinds sebagai Franklin adalah sosok ambisius tapi buta terhadap realitas, sementara Tobias Menzies sebagai Komandan James Fitzjames menambah dimensi tragis sebagai perwira yang mulai kehilangan akal sehat. Atmosfer serial ini sangat dingin dan claustrophobic: kapal yang terjebak es, badai salju yang tak berujung, dan kegelapan malam Arktik menciptakan rasa terisolasi total.
Tidak ada efek CGI berlebihan pada Tuunbaq; makhluk itu digambarkan secara sugestif—bayangan besar, suara mengerikan, dan mayat-mayat yang dimutilasi—membuat teror terasa lebih nyata dan psikologis. Serial ini juga menyoroti tema kolonialisme dan hubungan buruk antara ekspedisi Inggris dengan suku Inuit, menambah lapisan sosial yang dalam.
Kesimpulan
The Terror musim pertama adalah serial yang langka: dingin sekaligus sangat mencekam, historis tapi penuh horor psikologis, dan mendalam tanpa terasa lambat. Kekuatan utamanya terletak pada penggambaran teror makhluk supranatural yang bertahap, penampilan luar biasa Jared Harris dan ensemble cast, serta atmosfer Arktik yang membuat penonton merasa benar-benar terjebak bersama kru. Serial ini berhasil menjadi tontonan wajib bagi penggemar thriller survival seperti The Thing atau Fortitude, dengan tambahan nuansa sejarah dan komentar sosial yang kuat. Hingga 2026, The Terror tetap relevan karena menunjukkan bahwa teror terbesar bukan hanya monster di luar, melainkan keputusan manusia dan konsekuensi dari keserakahan serta ketidakpedulian terhadap alam dan sesama. Jika kamu sedang mencari serial yang membuat bulu kuduk berdiri sekaligus otak bekerja, The Terror adalah pilihan tepat. Musim kedua (Angel of Darkness) berbeda cerita, tapi musim pertama saja sudah cukup untuk meninggalkan kesan mendalam. Saksikan atau tonton ulang—karena di tengah es Arktik, terkadang monster paling menakutkan adalah yang ada di dalam diri manusia sendiri. Sebuah karya yang gelap, indah, dan sangat tepat waktu.
