Skip to content

Onespiritinterfaithministers Review Film Bioskop Terbaru dan Terupdate

Menu
  • Sample Page
Menu
Review Film The Seed of the Sacred Fig: Kehancuran Keluarga

Review Film The Seed of the Sacred Fig: Kehancuran Keluarga

Posted on February 7, 2026 by admin

Review Film The Seed of the Sacred Fig: Kehancuran Keluarga. Film The Seed of the Sacred Fig karya sutradara Mohammad Rasoulof yang tayang perdana di Festival Film Cannes Mei 2024 dan rilis luas secara internasional akhir 2024–awal 2025, hingga Februari 2026 tetap menjadi salah satu karya sinematik paling kuat dan kontroversial tahun lalu. Film ini berhasil memenangkan Special Jury Prize di Cannes dan masuk nominasi Oscar 2025 untuk Best International Feature Film. Dengan durasi 168 menit, The Seed of the Sacred Fig mengisahkan kehancuran sebuah keluarga kelas menengah di Teheran di tengah gelombang protes Mahsa Amini 2022. Dibintangi Missagh Zare sebagai Iman, seorang hakim investigasi yang setia pada rezim, serta Parinaz Izadyar dan Setareh Malek sebagai istrinya dan dua putrinya, film ini bukan sekadar drama keluarga; ia adalah potret telanjang tentang bagaimana represi politik merusak ikatan paling intim sekalipun—keluarga itu sendiri. BERITA TERKINI

Alur Cerita yang Lambat tapi Menghancurkan: Review Film The Seed of the Sacred Fig: Kehancuran Keluarga

Cerita berpusat pada Iman, hakim yang baru dipromosikan di sistem peradilan Iran. Ia hidup bahagia dengan istri Mitra dan dua putri remajanya, Rezvan dan Sana. Namun ketika protes Mahsa Amini meledak di seluruh negeri, Iman mulai membawa pulang pistol dinas untuk “melindungi keluarga”. Pistol itu menjadi simbol utama yang memecah keluarga: putri-putrinya yang mulai bersimpati pada demonstran semakin menjauh, sementara Mitra berusaha mempertahankan kedamaian rumah tangga di tengah ketegangan yang meningkat.
Alur berjalan lambat dan realistis—tidak ada adegan demonstrasi besar atau kekerasan massa; konflik terjadi di dalam rumah. Percakapan sehari-hari berubah menjadi perdebatan ideologi, kebohongan kecil menjadi jurang pemisah, dan pistol yang semula disembunyikan akhirnya menjadi ancaman nyata. Tidak ada klimaks aksi; kehancuran keluarga terjadi secara perlahan melalui ketakutan, kecurigaan, dan keheningan yang semakin dalam. Ending film terasa sangat pahit dan ambigu—sebuah keluarga yang hancur tanpa ada yang menang, hanya korban dari sistem yang lebih besar.

Performa Missagh Zare dan Ensemble yang Sangat Kuat: Review Film The Seed of the Sacred Fig: Kehancuran Keluarga

Missagh Zare sebagai Iman memberikan penampilan yang sangat mengganggu: seorang ayah yang mencintai keluarganya tapi secara bertahap menjadi monster di mata anak-anaknya sendiri. Ekspresi wajahnya yang berubah dari kasih sayang menjadi kecurigaan dan kemarahan terasa sangat nyata dan menakutkan. Parinaz Izadyar sebagai Mitra membawa kerapuhan seorang istri yang terjebak antara cinta pada suami dan kekhawatiran pada anak-anaknya.
Setareh Malek dan Mahsa Rostami sebagai dua putri memberikan performa yang luar biasa—mereka berhasil menangkap rasa marah, ketakutan, dan kekecewaan generasi muda Iran terhadap orang tua yang memilih “keamanan” daripada keadilan. Ensemble ini terasa sangat autentik karena sebagian besar aktor mempertaruhkan keselamatan pribadi untuk ikut dalam film ini, dan itu terasa dalam setiap tatapan dan keheningan mereka.

Sinematografi dan Atmosfer yang Mencekam

Sinematografi oleh Pooyan Aghababaei menggunakan cahaya alami dan warna-warna dingin Teheran yang membuat rumah terasa seperti penjara meski penuh barang-barang keluarga. Pengambilan gambar handheld dan close-up wajah menciptakan rasa klaustrofobia yang konstan—penonton merasa ikut terkurung bersama keluarga itu. Tidak ada musik latar yang mendominasi; suara kota, sirene polisi, dan keheningan rumah menjadi elemen horor utama. Adegan-adegan malam hari dengan pistol di meja makan terasa sangat menegangkan tanpa perlu efek suara berlebihan.

Makna Lebih Dalam: Kehancuran Keluarga di Bawah Represi Politik

Di balik drama keluarga, The Seed of the Sacred Fig adalah kritik tajam terhadap rezim otoriter yang merusak ikatan paling dasar masyarakat: keluarga. Iman yang awalnya ayah penyayang berubah menjadi paranoid dan represif karena tekanan sistem—ia takut kehilangan jabatan, takut dicap pengkhianat, dan akhirnya takut pada anak-anaknya sendiri. Pistol yang ia bawa pulang bukan sekadar senjata; ia adalah simbol kekuasaan negara yang masuk ke rumah tangga dan menghancurkan kepercayaan antaranggota keluarga.
Film ini juga menunjukkan bagaimana perempuan dan anak muda menjadi korban pertama represi: Mitra yang terjebak dalam peran istri taat, dan putri-putri yang mulai memberontak tapi tidak punya kekuatan untuk mengubah sistem. Makna terdalamnya adalah bahwa kediktatoran tidak hanya menghancurkan tubuh, tapi juga jiwa keluarga—membuat orang tua takut pada anaknya sendiri, dan anak takut pada orang tua yang seharusnya melindungi.

Kesimpulan

The Seed of the Sacred Fig adalah film yang langka: menyedihkan sekaligus menggugah, lambat sekaligus sangat kuat, dan sangat manusiawi tanpa terasa berlebihan. Kekuatan utamanya terletak pada performa ensemble yang luar biasa, sinematografi yang mencekam, dan arahan Mohammad Rasoulof yang berani menunjukkan sisi paling gelap dari represi politik. Film ini berhasil menjadi potret keluarga Iran yang hancur bukan karena perang luar, melainkan karena ketakutan dan kekuasaan dari dalam. Jika kamu mencari film yang tidak hanya menghibur tapi juga membuatmu marah dan berpikir tentang dampak kediktatoran terhadap kehidupan sehari-hari, The Seed of the Sacred Fig adalah pilihan yang sangat tepat. Tonton sekali saja mungkin tidak cukup—karena setiap kali ditonton ulang, kamu akan semakin merasakan betapa rapuhnya ikatan keluarga di bawah bayang-bayang kekuasaan. Film ini bukan sekadar drama politik; ia adalah pengingat bahwa kehancuran terbesar sering dimulai dari dalam rumah—dan bahwa perjuangan terberat adalah mempertahankan kemanusiaan di tengah sistem yang ingin menghilangkannya. Dan itu, pada akhirnya, adalah pesan paling menyakitkan sekaligus paling penting dari sebuah film.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Category: Uncategorized

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Review Film The Seed of the Sacred Fig: Kehancuran Keluarga
  • Review Film Formula 1
  • Review Film Promised Hearts: Cinta Suci
  • Review Film On Your Wedding Day
  • Review Film Can This Love Be Translated?: Romansa Bahasa

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025

Categories

  • Uncategorized
© 2026 Onespiritinterfaithministers Review Film Bioskop Terbaru dan Terupdate | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme