Review Film The Matrix. Film The Matrix arahan Wachowski bersaudara yang rilis pada 1999 tetap jadi salah satu sci-fi action paling revolusioner hingga 2026, terutama dengan sekuel terbaru yang baru tayang dan langsung jadi pembicaraan. Dibintangi Keanu Reeves sebagai Neo, Laurence Fishburne sebagai Morpheus, dan Carrie-Anne Moss sebagai Trinity, film ini raup lebih dari 460 juta dolar dunia dari budget 63 juta, serta sapu 4 Oscar teknis. Dengan durasi 136 menit penuh filosofi, aksi bullet time, dan twist realitas, The Matrix ubah cara Hollywood gambarkan dunia digital dan identitas. Review ini bahas kenapa film ini masih layak ditonton ulang sebagai masterpiece yang tak lekang waktu. BERITA BOLA
Plot Filosofis dan Twist Realitas: Review Film The Matrix
Premis The Matrix brilian: hacker Thomas Anderson (Keanu Reeves) yang merasa hidupnya tak nyata bertemu Morpheus yang tawarkan pil merah untuk lihat kebenaran. Ternyata manusia hidup di simulasi Matrix yang diciptakan mesin untuk kendali pikiran, sementara tubuh asli dipanen energi di pod. Neo dipilih sebagai “The One” yang bisa ubah aturan Matrix. Plot campur action dengan filosofi—referensi Plato’s cave, Baudrillard simulacra, dan agama—tapi dieksekusi tanpa terasa berat. Twist “there is no spoon” atau Neo bangkit di akhir jadi momen ikonik yang bikin penonton wow. Karakter tak hitam-putih: Agent Smith (Hugo Weaving) villain karismatik yang benci manusia, Morpheus guru bijak tapi fanatik, Trinity cinta yang beri Neo alasan bertahan. Plot tak punya filler—setiap adegan dorong narasi atau aksi, buat film terasa padat tapi mudah diikuti.
Aksi Bullet Time dan Inovasi Visual: Review Film The Matrix
Aksi di The Matrix jadi benchmark action modern dengan “bullet time”—slow-motion 360 derajat saat Neo hindari peluru, inovasi Wachowski dengan multiple camera dan CGI saat itu. Fight scene seperti Neo vs Morpheus di dojo simulasi atau Trinity lompat tendang polisi terasa fresh—koreografi Yuen Woo-ping campur wire-fu Hong Kong dengan efek digital. Adegan lobi shootout dengan pilar hancur atau rooftop chase beri intensitas tinggi tanpa berlebih. Sinematografi Bill Pope dengan green tint Matrix vs blue tint dunia nyata beri kontras jelas realitas vs simulasi. Kostum kulit hitam, kacamata hitam, dan trench coat jadi fashion ikonik 90-an akhir. Skor Don Davis dengan brass berat dan choir tambah nuansa epik. Saat rilis, bullet time jadi fenomena—dijiplak banyak film dan iklan, tapi orisinal tetap terbaik.
Warisan dan Relevansi Saat Ini
The Matrix menang 4 Oscar (Visual Effects, Editing, Sound, Sound Effects Editing) dan jadi budaya pop phenomenon—pill merah jadi simbol “wake up” di politik hingga meme. Pengaruh besar ke film seperti Inception, John Wick di fight choreography, atau seri seperti Westworld di tema simulasi. Keanu Reeves performa breakthrough sebagai Neo yang ragu jadi The One, Carrie-Anne Moss jadi action heroine kuat, Hugo Weaving villain memorable. Di 2026, saat VR, AI, dan metaverse semakin nyata, tema Matrix terasa profetik—pertanyaan “apa realita” lebih relevan dari pernah. Rating Rotten Tomatoes 83% kritikus dan 85% audience tunjukkan apel luas. Kritik atas filosofi terlalu pretentious atau sekuel kurang kuat dibalas kekuatan orisinal. Film ini bukti sci-fi bisa dalam tapi entertaining.
Kesimpulan
The Matrix 1999 adalah sci-fi masterpiece yang gabungkan plot filosofis twist realitas, aksi bullet time inovatif, dan performa Reeves-Fishburne-Weaving yang ikonik dengan visi Wachowski yang visioner. Film ini bukan sekadar action, tapi pertanyaan mendalam tentang realitas dan pilihan di dunia simulasi. Di usia lebih dari 25 tahun, tetap fresh dan sering direferensi di era digital sekarang. Bagi penggemar mind-bending thriller atau action klasik, ini wajib rewatch—film yang buat “what is the Matrix” jadi pertanyaan abadi. The Matrix ingatkan bahwa kadang pil merah lebih baik daripada hidup nyaman dalam ilusi. Klasik abadi yang tak tergantikan, bukti 90-an akhir punya sci-fi terbaik. Film yang ubah cara kita lihat dunia—literal dan metaforis.
