Review Film The King’s Choice. Film The King’s Choice yang dirilis pada tahun 2016 menyuguhkan drama sejarah intens tentang tiga hari krusial di April 1940, ketika Jerman menyerbu Norwegia yang netral, memaksa Raja Haakon VII menghadapi ultimatum sulit: menyerah dan mengakui pemerintahan boneka Vidkun Quisling atau melawan meski risiko nyawa rakyatnya tinggi, sehingga menyoroti dilema moral seorang raja konstitusional di tengah invasi mendadak. BERITA BASKET
Alur Cerita dan Karakter Utama: Review Film The King’s Choice
Cerita berfokus pada pelarian keluarga kerajaan serta pemerintah dari Oslo setelah kapal perang Jerman Blücher ditenggelamkan di Oslofjord, di mana Raja Haakon bersama Putra Mahkota Olav terus berpindah tempat sambil berdebat dengan utusan Jerman Curt Bräuer yang ingin negosiasi damai, sementara Quisling mencoba kudeta, hingga puncaknya Haakon memutuskan menolak kapitulasi demi mempertahankan demokrasi dan menginspirasi perlawanan rakyat Norwegia.
Penampilan Aktor dan Produksi: Review Film The King’s Choice
Jesper Christensen memerankan Raja Haakon dengan mendalam, menampilkan kerapuhan usia sekaligus ketegasan moral yang membuat karakternya ikonik, sementara Anders Baasmo Christiansen sebagai Olav menghadirkan konflik batin ayah-anak yang meyakinkan, serta Karl Markovics sebagai Bräuer yang kompleks dan manusiawi, dengan produksi memukau melalui adegan pertempuran laut malam yang dramatis, lokasi bersalju autentik, serta sinematografi yang menangkap ketegangan psikologis tanpa banyak aksi perang besar.
Akurasi Sejarah dan Tema yang Diangkat
Film ini sangat setia pada peristiwa nyata seperti penenggelaman Blücher, pelarian kerajaan, serta pidato penolakan Haakon yang historis, meski mengambil sedikit kebebasan pada dialog pribadi untuk menambah drama, sambil mengeksplorasi tema tanggung jawab pemimpin, pentingnya prinsip demokrasi melawan kekuatan militer, serta dampak keputusan satu orang terhadap nasib bangsa di awal Perang Dunia II.
Kesimpulan
The King’s Choice berhasil menjadi drama perang yang gripping dan bermakna berkat akting kuat Jesper Christensen, narasi ketat yang berbasis fakta, serta pendekatan patriotik namun manusiawi, cocok bagi penonton yang menyukai sejarah WWII dari perspektif kurang dikenal, meninggalkan kesan mendalam tentang keberanian moral di saat krisis nasional.
