Review Film Ninja Cheerleaders. Film Ninja Cheerleaders yang dirilis pada 2008 masih sering muncul sebagai contoh klasik film B-movie komedi aksi yang penuh kekonyolan. Disutradarai oleh David Presley, cerita mengikuti tiga mahasiswi pintar—April, Courtney, dan Monica—yang jadi cheerleader kampus, penari go-go malam hari, dan ninja terlatih di bawah bimbingan sensei mereka, Hiroshi. Saat sensei diculik mafia karena hutang, ketiganya harus selamatkan dia sambil jaga rahasia untuk capai mimpi masuk universitas bergengsi. Dengan George Takei sebagai sensei dan Trishelle Cannatella sebagai salah satu pemeran utama, film ini tawarkan campuran humor, aksi ringan, dan elemen eksploitasi khas era 2000-an awal. BERITA BASKET
Plot dan Karakter yang Absurd: Review Film Ninja Cheerleaders
Cerita Ninja Cheerleaders berpusat pada tiga gadis yang pintar dan ambisius, tapi dana kuliah mereka dari kerja malam sebagai penari. Sensei Hiroshi, pemilik klub sekaligus guru ninja, beri mereka pelatihan bela diri untuk lindungi diri. Saat mafia dipimpin Victor Lazzaro culik Hiroshi untuk paksa bayar hutang, gadis-gadis ini pakai skill ninja untuk infiltrasi, lawan anak buah mafia, dan selamatkan guru mereka. Plotnya penuh elemen klise: gadis seksi yang kuat, mafia kartunish dengan ninja wanita jahat sebagai pacar bos, dan misi rahasia sambil jaga image kampus. Karakter utama punya chemistry sederhana—Courtney yang berani, April yang pintar, Monica yang lincah—dengan George Takei beri sentuhan karismatik sebagai sensei bijak yang ternyata punya sisi lucu.
Aksi dan Humor yang Campur Aduk: Review Film Ninja Cheerleaders
Aksi di film ini lebih fokus pada komedi daripada intens: pertarungan ninja gadis-gadis pakai tendangan tinggi dan senjata tradisional, tapi sering berakhir konyol karena lawan bodoh atau situasi absurd. Adegan go-go dancing dengan kostum minim dan latihan cheerleading beri nuansa eksploitasi, meski tidak terlalu vulgar. Humor datang dari banter antar gadis, sensei yang bijak tapi terlibat masalah mafia, dan momen slapstick seperti jebakan gagal atau lawan yang terlalu mudah dikalahkan. Musik upbeat dan editing cepat tambah vibe ringan, tapi koreografi martial arts terasa amatir dan kurang meyakinkan, membuat aksi lebih lucu daripada seru.
Penerimaan dan Status Kultus
Saat rilis, Ninja Cheerleaders dapat rating rendah dari kritikus—sering dikritik karena script lemah, acting standar, dan plot berantakan—tapi sukses moderat di pasar video karena judul provokatif dan cast yang menarik. George Takei jadi highlight utama dengan peran sensei yang charming, sementara Trishelle Cannatella dan rekan-rekannya beri daya tarik visual. Kini, film ini punya status kultus sebagai “so bad it’s good”—banyak penonton suka karena kekonyolannya yang tak berpura-pura, dengan bloopers di kredit yang lucu. Meski tidak inovatif, ia tetap jadi guilty pleasure bagi penggemar komedi aksi murahan era 2000-an.
Kesimpulan
Ninja Cheerleaders adalah film komedi aksi B-movie yang penuh kekacauan menyenangkan, dengan campuran cheerleader, ninja, dan mafia yang absurd tapi menghibur. Meski aksi lemah dan plot tipis, pesona George Takei serta humor ringan bikin film ini layak sebagai tontonan santai atau nostalgia trashy. Di era sekarang, ia bukti bahwa film dengan konsep gila bisa punya tempat sendiri—cocok untuk malam tawa tanpa ekspektasi tinggi, asal siap terima kekonyolan penuh. Klasik kultus yang tak akan mengecewakan penggemar genre eksploitasi ringan.
