Review Film Joko Anwar’s Satan’s Slaves Remake Terbaik. Pengabdi Setan (Satan’s Slaves) garapan Joko Anwar yang rilis 2017 sering disebut sebagai remake horor Indonesia terbaik sepanjang masa. Sebagai loose remake sekaligus prequel dari film klasik 1980 karya Sisworo Gautama Putra, Joko Anwar berhasil menghidupkan kembali cerita ikonik itu dengan pendekatan modern yang lebih dalam, atmosfer mencekam, dan elemen emosional keluarga yang kuat. Film ini tak hanya jadi blockbuster lokal, tapi juga membawa horor Indonesia ke panggung internasional dengan kualitas yang patut dibanggakan. BERITA BASKET
Joko Anwar sejak awal karier sudah terobsesi dengan film asli Pengabdi Setan—ia bahkan mengaku film 1980 itu yang menginspirasinya jadi sineas. Dengan visi segar, ia menggarap ulang cerita itu bukan sebagai pengganti, melainkan companion piece yang memperluas universe. Berlatar era 1980-an di rumah sederhana pinggiran kota, film ini mengikuti keluarga yang dihantui setelah kematian ibu mereka. Rini (Tara Basro) dan adik-adiknya—Tony, Bondi, Ian—bersama ayah (Bront Palarae) menghadapi penampakan misterius yang ternyata berakar dari rahasia gelap masa lalu ibu mereka. Dibintangi Ayu Laksmi sebagai sosok ibu yang “kembali”, film ini rilis 28 September 2017 dan langsung jadi fenomena.
Kesuksesan Box Office dan Penghargaan: Review Film Joko Anwar’s Satan’s Slaves Remake Terbaik
Film ini mencatat lebih dari 4,2 juta penonton, menjadikannya film Indonesia terlaris tahun 2017 dan salah satu horor domestik paling sukses. Secara teknis, ia memborong tujuh Piala Citra di Festival Film Indonesia, termasuk Tata Musik Terbaik (Aghi Narottama, Tony Merle, Bemby Gusti), Pengarah Artistik, Tata Suara, Sinematografi, Lagu Tema, Efek Visual, serta Pemeran Anak Terbaik. Sound design jadi senjata utama—suara langkah, bisikan, dan musik latar yang menyeramkan bikin penonton merinding sepanjang 107 menit.
Secara internasional, film ini tayang di festival seperti Toronto, Overlook, dan Popcorn Frights, dengan rating tinggi di Rotten Tomatoes sekitar 91%. Kritikus memuji bagaimana Joko Anwar menggabungkan jumpscare timed dengan baik, atmosfer claustrophobic, dan pengembangan karakter yang membuat horor terasa personal. Banyak yang bilang ini horor tentang civil disobedience—cinta keluarga dan penolakan terhadap ketaatan buta jadi tema kuat yang beda dari original.
Perbedaan dengan Original dan Keunggulan Remake: Review Film Joko Anwar’s Satan’s Slaves Remake Terbaik
Film asli 1980 lebih fokus pada gore dan elemen supranatural klasik, dengan agama sebagai solusi utama melawan setan. Joko Anwar membaliknya: agama tak lagi jadi penyelamat mutlak; malah, keluarga mengandalkan ikatan emosional dan defiance terhadap kekuatan gelap. Twist tentang ibu yang infertil dan bergabung sekte demi punya anak (mirip Rosemary’s Baby) dieksekusi lebih halus, dengan kritik sosial halus soal agama yang ditinggalkan dan trauma masa lalu.
Visualnya autentik—rumah tua kosong, pencahayaan redup, lagu nostalgia seperti “Kelam Malam” dari versi asli—semuanya membangun nuansa 80-an yang kuat. Penampilan Tara Basro sebagai Rini yang skeptis tapi tangguh, Bront Palarae sebagai ayah putus asa, dan M. Adhiyat sebagai Ian yang polos jadi pondasi emosional. Adegan-adegan seperti penampakan ibu di tangga gelap atau klimaks zombie-like terasa brutal tapi organik, tak berlebihan.
Kesimpulan
Joko Anwar’s Pengabdi Setan memang remake terbaik karena tak sekadar meng-copy original, tapi memperkaya dengan lapisan emosi, kritik sosial, dan eksekusi teknis superior. Suksesnya membuka jalan bagi sekuel Pengabdi Setan 2: Communion (2022) yang bahkan lebih masif dengan 6+ juta penonton, plus tren horor Indonesia modern yang lebih berkualitas. Film ini bukti bahwa horor lokal bisa bersaing global—mencekam, mendalam, dan tak terlupakan. Bagi penggemar genre, ini wajib tonton ulang; bagi yang baru, siap-siap teror ibu sepanjang masa bakal menghantui mimpi malam itu juga.
