Skip to content

Onespiritinterfaithministers Review Film Bioskop Terbaru dan Terupdate

Menu
  • Sample Page
Menu
Review Film The Kitchen: Distopia London

Review Film The Kitchen: Distopia London

Posted on February 11, 2026 by admin

Review Film The Kitchen: Distopia London. The Kitchen (2023), film Netflix karya sutradara Daniel Kaluuya dan Kibwe Tavares, tetap menjadi salah satu karya dystopia paling segar dan berani yang dirilis dalam beberapa tahun terakhir. Berlatar tahun 2034 di London yang sudah terfragmentasi, film berdurasi 107 menit ini mengisahkan kehidupan sehari-hari di “The Kitchen”—blok apartemen sosial terakhir yang masih ditinggali di tengah kota yang semakin dikuasai swasta dan penggusuran massal. Dibintangi Kane Robinson (Kano) sebagai Izi dan Jedaiah Bannerman sebagai Benji, The Kitchen berhasil meraih pujian karena visual yang kuat, narasi yang intim, dan kritik sosial yang tajam terhadap gentrifikasi, ketimpangan kelas, dan hilangnya ruang publik di kota-kota besar. Hingga awal 2026, film ini masih sering disebut sebagai salah satu distopia urban terbaik yang tidak mengandalkan aksi berlebihan atau efek spesial mahal. BERITA TERKINI

Sinopsis dan Latar Dunia Distopia: Review Film The Kitchen: Distopia London

Cerita berpusat pada Izi, seorang pria muda yang bekerja sebagai “cleaner” di The Kitchen—tugasnya mengeluarkan mayat penduduk yang meninggal karena kelaparan, penyakit, atau kekerasan. Ia hidup sendirian di apartemen kecil hingga suatu hari menemukan Benji, anak laki-laki berusia 12 tahun yang ditinggal mati ibunya. Izi awalnya enggan terlibat, tapi perlahan membangun hubungan ayah-anak dengan Benji di tengah ancaman penggusuran besar-besaran oleh perusahaan swasta yang ingin mengubah blok menjadi kawasan mewah.
Latar dunia distopia London 2034 digambarkan sangat realistis dan tidak berlebihan: tidak ada zombie atau perang nuklir, hanya kota yang perlahan “dimatikan” oleh kapitalisme—listrik sering padam, air terbatas, transportasi umum sudah tidak ada, dan polisi hanya menjaga kawasan elit. The Kitchen adalah satu-satunya blok sosial yang masih bertahan, tapi warganya hidup dalam ketakutan konstan akan penggusuran paksa. Narasi berjalan lambat dan intim, fokus pada kehidupan sehari-hari, bukan aksi besar-besaran.

Penampilan Kano dan Jedaiah Bannerman: Review Film The Kitchen: Distopia London

Kane Robinson (Kano) memberikan penampilan paling matang dalam kariernya sebagai Izi. Ia berhasil menyampaikan konflik batin seorang pria yang ingin bertahan hidup tapi juga merasa bersalah karena tidak bisa melindungi orang-orang di sekitarnya. Kano tidak berlebihan dalam ekspresi; ia menggunakan keheningan, tatapan mata, dan gerakan tubuh untuk menunjukkan beban emosional yang dipikul Izi.
Jedaiah Bannerman sebagai Benji tampil sangat alami sebagai anak yang kehilangan ibu dan mencari figur ayah. Ia berhasil membuat penonton ikut merasakan ketakutan, kebingungan, dan harapan kecil Benji di tengah dunia yang semakin kejam. Chemistry antara Kano dan Bannerman terasa sangat autentik—mereka tidak terlihat seperti aktor yang berakting, melainkan seperti dua orang yang benar-benar terjebak dalam situasi yang sama.

Tema Utama dan Pendekatan Visual

The Kitchen adalah kritik tajam terhadap gentrifikasi, ketimpangan kelas, dan hilangnya ruang hidup bagi masyarakat miskin di kota-kota besar. Film ini tidak menampilkan distopia dengan elemen sci-fi berlebihan; ia menunjukkan bagaimana dunia bisa berubah menjadi neraka hanya melalui kebijakan ekonomi dan penggusuran bertahap. Tema solidaritas komunitas, tanggung jawab antarmanusia, dan perjuangan mempertahankan martabat di tengah kemiskinan menjadi inti cerita.
Secara visual, film ini sangat kuat. Sinematografi Ruaridh Stewart menggunakan warna-warna dingin dan pencahayaan natural untuk menciptakan rasa claustrophobia di dalam blok apartemen. Adegan-adegan di luar menunjukkan London yang semakin steril dan kosong, kontras dengan kehangatan komunitas di The Kitchen. Musik karya Mica Levi (yang juga menggarap soundtrack The Zone of Interest) menambah lapisan emosional tanpa mendominasi.

Kesimpulan

The Kitchen adalah film dystopia yang realistis, emosional, dan sangat manusiawi—menyajikan kisah perjuangan hidup di tengah kota yang perlahan “dimatikan” oleh kapitalisme. Penampilan Kano dan Jedaiah Bannerman luar biasa, sementara arahan Daniel Kaluuya dan Kibwe Tavares berhasil menciptakan karya yang intim sekaligus menggugat. Film ini bukan tentang aksi besar atau akhir dunia yang dramatis; ia adalah potret tentang bagaimana orang biasa bertahan di tengah sistem yang semakin tidak peduli. Hingga 2026, The Kitchen tetap relevan karena mengajak penonton bertanya: apa yang tersisa dari komunitas ketika ruang hidup mereka diambil alih? Film ini layak ditonton, terutama bagi siapa saja yang menyukai distopia sosial seperti Children of Men atau Parasite, tapi dengan pendekatan yang lebih tenang dan berbasis pada realitas urban masa kini. The Kitchen bukan sekadar cerita tentang bertahan hidup—ia adalah pengingat bahwa solidaritas dan kemanusiaan sering kali menjadi senjata terakhir melawan dunia yang semakin dingin. Sebuah karya yang menggetarkan dan sangat layak diapresiasi.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Category: Uncategorized

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Review Film The Kitchen: Distopia London
  • Review Film La La Land
  • Review Film The Blind Side
  • Review Film The Seed of the Sacred Fig: Kehancuran Keluarga
  • Review Film Formula 1

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Hello world!

Archives

  • February 2026
  • January 2026
  • December 2025

Categories

  • Uncategorized
© 2026 Onespiritinterfaithministers Review Film Bioskop Terbaru dan Terupdate | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme