Review Film Can This Love Be Translated?: Romansa Bahasa. Di antara film romansa Korea yang mendominasi layar bioskop dan streaming pada akhir 2025 hingga awal 2026, Can This Love Be Translated? tetap menjadi salah satu yang paling segar dan hangat. Tayang perdana pada November 2025 di bioskop Korea Selatan dan segera masuk Netflix secara global, film ini langsung mencapai posisi teratas di chart lokal serta menjadi salah satu romcom paling banyak dibicarakan tahun itu. Dengan Kim Seon-ho sebagai penerjemah bahasa isyarat yang cerdas dan sarkastik serta Go Youn-jung sebagai penyanyi K-pop internasional yang cerewet, film ini mengisahkan romansa yang lahir dari kesalahpahaman bahasa dan budaya. Berlatar antara Seoul dan tur Asia, Can This Love Be Translated? bukan sekadar cerita cinta biasa; ia adalah romansa bahasa yang lucu, manis, dan penuh makna—di mana dua orang dari dunia berbeda belajar “berbicara” satu sama lain melalui isyarat, nada, dan perasaan yang tak perlu kata-kata. BERITA TERKINI
Latar Belakang Film: Review Film Can This Love Be Translated?: Romansa Bahasa
Can This Love Be Translated? disutradarai oleh Yoo Young-eun, yang sebelumnya sukses dengan drama romansa ringan, dan ditulis oleh tim penulis yang terkenal dengan dialog tajam dan chemistry kuat. Kim Seon-ho memerankan Kang Ho-jin, seorang penerjemah bahasa isyarat profesional yang bekerja untuk artis internasional—karakternya pendiam, sarkastik, tapi sangat peka terhadap emosi orang lain. Go Youn-jung sebagai Yoon Ji-woo, penyanyi K-pop yang baru saja memulai karier solo global, digambarkan sebagai perempuan energik, impulsif, dan sering salah paham karena kurang menguasai bahasa isyarat. Chemistry keduanya menjadi daya tarik utama—dari kesalahpahaman lucu di sesi latihan hingga momen intim di belakang panggung.
Produksi visualnya cerah dan modern: lokasi konser, studio rekaman, dan jalanan Seoul yang sibuk kontras dengan momen tenang di ruang latihan bahasa isyarat. OST yang dipimpin oleh lagu-lagu orisinal dan cover ballad klasik menambah nuansa emosional, sementara sinematografi menonjolkan ekspresi wajah dan gerakan tangan sebagai “bahasa” utama cerita. Film ini dirilis dengan durasi 118 menit, cukup untuk membangun hubungan karakter tanpa terasa bertele-tele, dan berhasil menarik penonton lintas generasi—dari remaja yang suka romcom hingga orang dewasa yang relate dengan tema komunikasi dalam hubungan.
Analisis Tema dan Makna: Review Film Can This Love Be Translated?: Romansa Bahasa
Makna utama Can This Love Be Translated? adalah romansa yang lahir dari kesulitan berkomunikasi—di mana bahasa bukan hanya kata-kata, melainkan cara seseorang memahami dan menghargai orang lain. Ho-jin, yang terbiasa “mendengar” melalui mata dan gerakan tangan, awalnya kesal dengan Ji-woo yang cerewet dan sering salah mengartikan isyarat. Namun justru perbedaan itu yang membuat mereka saling melengkapi: Ji-woo belajar mendengarkan dengan sabar, sementara Ho-jin belajar mengekspresikan perasaan dengan lebih terbuka.
Film ini menyentuh tema inklusivitas dengan lembut—bahasa isyarat diperlakukan sebagai bahasa yang indah dan setara, bukan sekadar “alat bantu”. Ada momen-momen lucu ketika Ji-woo salah paham instruksi Ho-jin di panggung, tapi juga momen haru ketika Ho-jin “menerjemahkan” lagu Ji-woo ke dalam isyarat untuk penonton Tuli di konser. Konflik utama muncul dari tekanan karier Ji-woo yang sibuk dan trauma masa lalu Ho-jin yang membuatnya ragu membuka hati. Romansa mereka berkembang perlahan—dari kesalahpahaman lucu, pertengkaran kecil, hingga pengakuan yang tulus—tanpa terburu-buru atau klise berlebihan.
Secara keseluruhan, film ini menyampaikan bahwa cinta sejati tak selalu butuh kata-kata sempurna; cukup dengan usaha untuk saling memahami, mendengar (atau “melihat”), dan berada di sisi satu sama lain. Pesan inklusivitas bahasa isyarat juga disampaikan dengan hormat, membuat film ini terasa edukatif tanpa menggurui.
Dampak dan Resepsi Publik: Review Film Can This Love Be Translated?: Romansa Bahasa
Sejak rilis, Can This Love Be Translated? mendapat sambutan hangat karena chemistry luar biasa antara Kim Seon-ho dan Go Youn-jung—banyak penonton menyebut mereka sebagai pasangan romcom terbaik tahun itu. Film ini juga dipuji karena representasi bahasa isyarat yang autentik—ada konsultasi dengan komunitas Tuli selama produksi, dan beberapa adegan menggunakan isyarat asli tanpa subtitle di bagian tertentu untuk memberikan pengalaman langsung. Di Indonesia, film ini viral di bioskop dan Netflix, terutama di kalangan penggemar K-drama dan romcom, dengan banyak penonton berbagi adegan lucu dan haru di media sosial. Secara komersial, film ini sukses besar di pasar domestik Korea dan global, sering masuk daftar “best romcom 2025” di berbagai platform. Hingga awal 2026, serial ini masih sering direwatch dan dibahas sebagai contoh romansa yang segar, inklusif, dan penuh perasaan.
Kesimpulan
Can This Love Be Translated? adalah romansa bahasa yang manis, lucu, dan menyentuh—sebuah film yang berhasil mengubah kesalahpahaman menjadi bahasa cinta yang universal. Kim Seon-ho dan Go Youn-jung memberikan chemistry yang alami dan hangat, sementara Andini Efendi menyajikan cerita yang ringan tapi bermakna tentang komunikasi, pengertian, dan penerimaan dalam hubungan. Di 2026 ini, ketika cerita romansa yang inklusif semakin dicari, film ini mengingatkan bahwa cinta tak selalu butuh kata-kata yang sama—cukup dengan niat untuk saling memahami. Jika Anda mencari romcom yang membuat tersenyum, menangis, dan berpikir ulang tentang cara berkomunikasi dengan orang tersayang, Can This Love Be Translated? adalah tontonan yang tepat. Putar sekarang—mungkin Anda akan menemukan cara baru untuk “berbicara” dengan hati seseorang.
